'untukmu sahabat'
tak terkira lagi peluh yang jatuh
tak terbendung lagi airmata yang keluar
tak terbayar lagi pengorbanan yang telah diberikan
hari itu,
semua rasa bercampur menjadi satu
perih remuk redam mengalir deras di seluruh syaraf
memekik menggaung suara batin laksana diri yang tercekik
kala itu,
sebagian berbondong-bondong mencari pada sebagian
isak tangis derai asa meliputi selaksa tawa
menyeret kaki berusaha dan terus berusaha bangkit dan mencari lagi
apa yang masih kau cari? tanya seseorang pada yang lain
sebuah kemaafan
yang hampir punah ditelan masa
yang tanpanya maka tak selamatlah akhirnya jiwa
: maaf tulusku kepada siapapun yang telah tersakiti dan tersalahi oleh kefanaanku
Read more...Dia...
Ikhwan beriman dan berakhlakul karimah
Penebar ukhuwah dirindu ummah
Dia...
Berhias wudhu pelantun kitabillah
Senyum tawadhu berbungkus karomah
Dia...
Penjaga amanah penuai hikmah
Teduh dalam hasanah
Dia...
Imam jama'ah penuh barokah
Anugrah terindah tak bernoktah
Dia...
Dinanti jannah dengan senyum merekah
Dia...
Teman bermujahadah di titian penuh rohmah
Sarat di tiap doa dan munajah
Tuhan....
Saat aku menyukai seorang teman
Ingatkanlah aku bahwa akan ada sebuah akhir
Sehingga aku tetap bersama Yang Tak Pernah Berakhir
Tuhan.....
Ketika aku merindukan seorang kekasih
Rindukanlah aku kepada yang rindu Cinta Sejati Mu
Agar kerinduanku terhadap - Mu semakin menjadi
Tuhan.......
Jika aku hendak mencintai seseorang
Temukanlah aku dengan orang yang mencinatai - Mu
Agar bertambah kuat cintaku pada - Mu
Tuhan......
Ketika aku sedang jatuh cinta
Jagalah cinta itu
Agar tidak melebihi cintaku pada - Mu
Tuhan....
Ketika aku berucap aku cinta pada - Mu
Biarlah kukatakan kepada yang hatinya tertaut pada - Mu
Agar aku tak jatuh dalam cinta yang bukan karena - Mu
Dicintai oleh orang yang kau cintai sangatlah berarti
Tapi dicintai oleh Sang Pemilik Cinta adalah segalanya
mengikuti gerak hati menuju keindahan abadi
mengindahkan terpaan badai yang selalu datang menghujami
yang terdengar hanya nyanyian surgawi
yang datang berhembus lirih menyusup sanubari
aku ingat suara itu
suara yang pernah menggetarkan jiwaku
keindahan yang sangat menyejukkan jiwa
membuai setiap naluri yang mendengarnya
keindahan taman impian yang membahana
menyisakan senyuman sang dewi nirmala
fikirku tersesat di tempat yang begitu asing
seakan tak berpenghuni
penuh sekat dan tabir yang menghalang melintang
kemana ku harus bertanya?
mencoba menyingkap semua tabir penghalang
namun... seakan tak satu pun tabir yang berhasil kusingkap
meski aku telah melakukannya hingga tersengal
terduduk lemas aku disudut fikirku
kawan... baru kusadari
aku tersesat di alam fikirmu!
mengapa begitu banyak tabir yang kau buat?
apa kau sengaja agar aku tak dapat mengetahui apa yang kau fikirkan?
agar aku tak mengerti mengapa kau begini?
yaa... aku memang tak mengerti!
karna tabir itu aku tak mengerti
karna sekat itu aku tak mengerti
karna keanehan sikapmu pun aku tak mengerti
aku akan pergi!
keluar dari alam fikirmu
yang menyisakan banyak tanda tanya tanpa jawab perlu
dunia yang asing...
dengan para makhluknya yang begitu asing pula
semoga suatu hari kau kan kembali ke dunia yang ku kenal
ku akan bebaskan langkahku tuk berlari sejauh mungkin
ku tulis memo di atas kertas putih kecil ini
sedang senyap angin di telingaku
seakan aku sendiri yang tertinggal di dunia ini
kemana mereka semua???
ku acuhkan semua pikiran itu
ku terus berusaha menulis
samar ku dengar lantunan lagu melayu sendu
entah darimana asalnya
sejenak konsentrasiku buyar
pikiranku terhanyut akan keindahan syairnya
ah... ini hanya tipuan sesaat pikirku lagi
aku tak boleh tertipu keindahan sejenak lagi
hanya merusak asa dan langkahku
aku kembalikan fokusku pada kertas didepanku
seakan dunia tak mau tau apa yang ku kerjakan
dan aku pun begitu, tak peduli lagi dengan peredaran dunia ini
yang ada di pikir ku hanya kemantapan langkahku
penaku kembali menari di atas kertas ini
sejuta kata di benakku yang ingin ku tumpahkan ke dalam kertas ini
namun hanya satu larik kata yang mampu ku tuangkan
yang mungkin mampu mewakilkan segenap rasa di jiwa
"kenangan tertinggal"
tetes peluh membasah kening
raut lelah menghapus indah wajah
merangkai kisah dalam bait gurat seri
onak itu seakan tak ingin beranjak pergi
selalu dan selalu bercokol di hidupnya
kian menuakan jejak derik langkahnya
cerita musim lalu yang ternyata belum usai
semakin merait talian olah pikirnya
dapat ku baca kemelut di jiwanya
oh bunda...
ku ingin kembalikan seri wajahmu
hapus semua lelah pikirmu
pindahkan pedih itu ke dalam sukmaku
gantikannya dengan seukir senyum indah untukmu
Kugantungkan namaku pada larik-larik puisi ini...